Powered By Blogger

Selasa, 28 Desember 2010

Huiling Mausoleum and Zhuge Liang Memorial Temple of the Three Kingdoms (220-280)

Inside Zhuge Liang Memorial Temple in Chengdu, Sichuan Province, there are a couple of facing couplets, the one on the right reads “Recall that I went for a walk to the east of Jingting Pavilion” while, to the left, “Emperor Liu and Prime Minister Zhuge worshipped in the same temple,” excerpts from the poem Song of Old Cypress written by the Tang Dynasty poet Du Fu (712-770) in depicting the close relationship between Zhuge Liang (181-234) and Liu Bei (161-223). The closeness extended to death as their temples were built close together and nearly identical. Thus, this introduction to Liu Bei’s Huiling Mausoleum and temple also introduces the Zhuge Liang Memorial Temple.


Zhuge Liang Memorial
Zhuge Liang Memorial Temple
Zaman Tiga Negara atau juga dikenal dengan nama Samkok (Hanzi sederhana: 三国時代; Hanzi tradisional: 三國時代, hanyu pinyin: sanguo shidai, bahasa Inggris: Three Kingdoms Era) (220 - 280) adalah sebuah zaman di penghujung Dinasti Han di mana Cina terpecah menjadi tiga negara yang saling bermusuhan.

Di dalam sejarah Cina biasanya hanya boleh ada kaisar tunggal yang dianggap menjalankan mandat langit untuk berkuasa, namun di zaman ini karena tidak ada satupun negara yang dapat menaklukkan negara lainnya untuk mempersatukan Cina, maka muncullah tiga negara dengan kaisar masing-masing. Cina akhirnya dipersatukan oleh keluarga Sima yang merebut kekuasaan dari negara Wei dan menaklukkan Wu serta mendirikan Dinasti Jin.

Sabtu, 11 Desember 2010


Diceritakan sepasang suami istri yang hidup bersama anak yang berumur 5 tahun dan kakek yang berumur 89 tahun

Mereka hidup di sebuah gubuk tua di lembah gunung daerah pulau jawa
Suatu hari sepasang suami istri ini berdebat tentang kemiskinan yang diderita oleh mereka,
Akhir perdebatan, mereka memutuskan sang kakek agar dibuang karena mereka menganggap bahwa sang kakek adalah beban yang membuat mereka menjadi miskin 
Sepasang suami istri ini bermaksud membuang kakek pada malam hari sekalian dengan keranjang tidur yang ditiduri sang kakek